Open Journal Systems

Cover Image

Nilai ekonomi dan analisis kebijakan perburuan dan perdagangan satwa liar di Kabupaten Manokwari

Sepus Marten Fatem, Jonni Marwa, Melanesia Brigite Boseren, Yubel Maria Msen

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi satwa liar, teknik perburuan dan pola perdagangan, serta menganalisis kebijakan satwa liar yang diperdagangkan selama Mei–Agustus 2012 di Kabupaten Manokwari. Nilai ekonomi satwa liar dihitung menggunakan pendekatan harga pasar dan dijabarkan secara deskriptif. Terdapat lima kelas satwa liar yang diperdagangkan, yaitu: kakatua koki (Cacatua galerita), nuri bayan (Eclectus roratus), kasturi kepala hitam (Lorius lory), perkici pelangi (Trichoglossus haematodus), nuri kelam (Pseudeos fuscata), nuri cokelat (Chalcopsitta duivenbodei), cenderawasih kecil (Paradisaea minor), jalak (Sturnus contra) dan merpati (Columba sp.). Kelas Mamalia, yaitu rusa (Cervus timorensis), kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus), babi hutan (Sus sp.) dan tikus tanah (Echymipera sp.). Kelas Reptilia, yaitu: kura-kura leher panjang (Chelodina spp.), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), belut (Synbranchus marmoratus) dan telur kura-kura/penyu. Kelas Moluska, yaitu kerang kepah (Polymesoda sp.), siput mata bulan (Turbo sparverius) dan triton terompet (Charonia tritonis), dan Kelas Krustasea, yaitu kepiting bakau besar (Scylla sp.) dan udang (Triops cancriformis). Nilai Total Ekonomi perdagangan satwa liar adalah Rp91.925.378/tahun. Teknik perburuan meliputi menembak, menjerat, menangkap anak satwa liar, memungut, memancing dan menyelam. Perdagangan dilakukan secara langsung (Penjualan ke pasar lokal oleh penangkap) dan tidak langsung (Penjualan ke pasar lokal melalui penadah). Aktivitas perburuan dan perdagangan satwa liar didorong oleh faktor ekonomi dan nilai jual satwa liar yang cukup tinggi, serta lemahnya penegakkan hukum. Sosialiasi yang komprehensif kepada seluruh lapisan masyarakat dan skema kehutanan seperti perhutanan sosial dalam bentuk ekowisata dapat diterapkan pada daerah-daerah yang merupakan habitat satwa burung. Perdagangan dapat didukung dengan implementasi kuota dan penangkaran.

Keywords

Nilai ekonomi; satwa liar; perburuan; perdagangan; kebijakan

Article Metrics

Abstract view : 60 times
PDF downloaded - 31 times

Full Text:

PDF

References

Alikodra, S. H. (2010). Teknik pengelolaan satwaliar dalam rangka mempertahankan keanekaragaman hayati Indonesia (2nd ed.). IPB Press.

Anugerah, P. (2018). Tren perdagangan satwa liar yang dilindungi “meningkat.” BBC News, Indonesia. https://www.bbc.com/

Badan Pusat Statistik. (2012). Papua Barat Dalam Angka - Papua Barat in Figures 2012. Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat.

Benítez-López, A., Santini, L., Schipper, A. M., Busana, M., & Huijbregts, M. A. J. (2019). Intact but empty forests? Patterns of hunting induced mammal defaunation in the tropics. PLoS Biology, 17(5), 1–18.

Bird’s Head Seascape. (2007). Perdagangan Satwa Yang Dilindungi Asal Papua Masih Terus Berlangsung. (p 144). Keanekaragaman Hayati: Bunga Rampai ALAMKU. Papua.

Chen, J. (2019). What is a Trading Strategy? https://www.investopedia.com/terms/t/trading-strategy.asp tanggal akses 26/02/2020

Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna dan Flora (CITES). (2019). Appendices I, II, and III. https://www.cites.org/eng/disc/what.php tanggal akses 26.2.2020

Dermawan, M. I., & Kawedar, W. (2019). Pengakuan, penilaian dan pengungkapan “Aset” Satwa di Lembaga Konservasi. Diponegoro Journal of Accounting, 8(1), 1–13.

Eshoo, P. F., Johnson, A., Duangdala, S., & Hansel, T. (2018). Design, monitoring and evaluation of a direct payments approach for an ecotourism strategy to reduce illegal hunting and trade of wildlife in Lao PDR. PLoS ONE, 13(2), 1–18.

Espinosa, C. (2008). What has Globalization to do with Wildlife Use in the Remote Amazon? Exploring the Links between Macroeconomic Changes, Markets and Community Entitlements. Journal of Developing Societies, 24(4), 489–521.

Faan, Y. (2006). Trend perdagangan satwa liar di Distrik Manokwari. University of Papua.

Firdaus, M., & Hafsaridewi, R. (2012). Nilai ekonomi pemanfaatan ikan napoleon (Cheilinus undulatus) di Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau. Buletin Ilmiah Marina Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan, 7(1), 1–6.

Firmansyah, S. (2018). Diskusi konservasi: Memberantas perdagangan ilegal satwa. World Wide Fund for Nature (WWF).

Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO). (2015). Global Forest Resources Assessment (FRA) 2015: Terms and Definitions.

Haas, T. C., & Ferreira, S. M. (2016). Combating rhino horn trafficking: The need to disrupt criminal networks. PLoS ONE, 11(11).

Harrison, R. D., Sreekar, R., Brodie, J. F., Brook, S., Luskin, M., O’Kelly, H., Rao, M., Scheffers, B., & Velho, N. (2016). Impacts of hunting on tropical forests in Southeast Asia. Conservation Biology, 30(5), 972–981.

Hastari, B., & Yulianti, R. (2018). Pemanfaatan Dan Nilai Ekonomi Hasil Hutan Bukan Kayu Di Kphl Kapuas-Kahayan. Jurnal Hutan Tropis, 6(2), 145-153.

Ibanga, D. (2017). Patterns , trends , and issues of illicit wildlife hunting and trade : Analysis based on African environmental ethics. International Journal of Development and Sustainability, 6(11), 1865–1890.

IUCN. (2020). IUCN Red List of Threatened Species. Choice Reviews Online.

Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 447/Kpts-II/2003. (2003). Tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar.

Leberatto, A. C. (2016). Understanding the illegal trade of live wildlife species in Peru. Trends in Organized Crime, 19(1), 42–66.

Luskin, M. S., Ickes, K., Yao, T. L., & Davies, S. J. (2019). Wildlife differentially affect tree and liana regeneration in a tropical forest: An 18-year study of experimental terrestrial defaunation versus artificially abundant herbivores. Journal of Applied Ecology, 56(6), 1379–1388.

Mirdat, I., Kartikawati, S. M., & Siahaan, S. (2019). Jenis satwa liar yang diperdagangkan sebagai bahan pangan di Kota Pontianak. Jurnal Hutan Lestari, 7(1), 287–295.

Ntuli, H., & Muchapondwa, E. (2017). Effects of wildlife resources on community welfare in Southern Africa. Ecological Economics, 131(October), 572–583.

Osuri, A. M., Mendiratta, U., Naniwadekar, R., Varma, V., & Naeem, S. (2020). Hunting and forest modification have distinct defaunation impacts on tropical mammals and birds. Frontiers in Forests and Global Change.

Pattiselanno, F., & George, M. (2010). Kearifan tradisional Suku Maybrat dalam perburuan satwa sebagai penunjang pelestarian satwa. Makara, Sosial Humaniora, 14(2), 75–82.

Peres, C. A., Emilio, T., Schietti, J., Desmoulière, S. J. M., & Levi, T. (2016). Dispersal limitation induces long-term biomass collapse in overhunted Amazonian forests. Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America, 113(4), 892–897.

ProFauna Indonesia. (2012a). Perdagangan Primata di Palembang, Sumatra Selatan. http://www.profauna.net.

ProFauna Indonesia. (2012b). Suara Satwa: Media Informasi Profauna Indonesia, 16 (3).

Qayyim, D. I., Kusrini, M. D., & Mardiastuti, A. (2019). Perdagangan dan pemanfaatan Kura-Kura di Palu, Sulawesi Tengah dan sekitarnya. Prosiding Seminar Nasional Konservasi Dan Pemanfaatan Tumbuhan Dan Satwa Liar “Riset Sebagai Fondasi Konservasi Dan Pemanfaatan Tumbuhan Dan Satwa Liar” 2019, 473–482.

Rahmanita, D. (2006). Nilai Ekonomi Satwaliar Berdasarkan Preferensi Masyarakat Di Sekitar Hutan: Studi Kasus di Hutan Produksi PT. Sari Bumi Kusuma, Kalimantan Tengah. (Skripsi) Sarjana Sains IPB.

Sianturi, H. R. E. (2018). Pemidanaan terhadap pelaku perdagangan hewan langka menurut hukum pidana positif. Lex Crimen, 8(2) 37-42.

Tagg, N., Kuenbou, J. K., Laméris, D. W., Meigang, F. M. K., Kekeunou, S., Epanda, M. A., Dupain, J., Mbohli, D., Redmond, I., & Willie, J. (2020). Long ‑ term trends in wildlife community structure and functional diversity in a village hunting zone in southeast Cameroon. Biodiversity and Conservation, 29, 571–590.

TRAFFIC International. (2008). Wildlife trade. TRAFFIC International. https://www.traffic.org/

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999. (1999). Tentang Kehutanan. Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 167.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun. (1990). Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Widjaja, E.A., Rahayuningsih, Y., Rahajoe, JS., Ubaidillah R, Maryanto, I, Walujo, EB dan Semiadi, G. (2014). Kekinian Keanekaragaman Hayati Indonesia 2014. Jakarta: LIPI Press.

Wilcove, D., Giam, X., Edwards, P. D., Fisher, B., & Koh, L. P. (2013). Navjot’s nightmare revisited: logging, agriculture, and biodiversity in Southeast Asia. Trends in Ecology and Evolution, 28(9), 531–540.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.